DIMENSI “SAHABAT” ROSULULLAH SAW

(Makna Sahabat diantara Teman, Rekan dan Kawan)

Oleh : AHMAD ZAINURI

 

Bila kita melibatkan perasaan, maka panggilan sahabat merupakan dimensi yang mendatangkan kesejukan dan punya makna mendalam dibandingkan dengan panggilan teman, kawan maupun rekan.

 

PENDAHULUAN

Rasulullah SAW selalu menggunakan kata “sahabat”ketika beliau memanggil orang-orang dekatnya, seperti Abu Bakar, Umar Bin Khottob dan yang lainnya. Didalam kata sahabat, sesungguhnya mengandung sebuah arti ukhuwah (persau-daraan) yang sangat tinggi nilainya. Didalamnya terdapat pengertian adanya ikatan batin yang berdimensi tiga. Ibarat sebuah ruangan yang dalamnya cukup tersedia tempat untuk saling mengerti keadaan, memahami permasalahan, tempat mencurahkan isi hati (curhat) dan ada saling mengingatkan dan menasehati, dengan tetap dalam bingkai “bilhikmah wal mau’idhotil hasanah wajaadilhum billati hiya ahsan”.

 

DIMENSI SAHABAT

Didalam Shiroh sahabat diceritakan, suatu hari Abu Bakar berbicara dihadapan orang-orang kafir di masjidil Haram dan beliau dipukuli serta diinjak-injak sampai tak sadarkan diri. Kemudian Banu Taim membawa dan mengangkatnya pulang ke rumah beliau. Menjelang malam tiba, Abu Bakar siuman dan mulai sanggup bicara. Apakah kalimat pertama yang beliau ucapkan setelah sekian lama tidak sadarkan diri ?, Abu Bakar berkata “ bagaimana keadaan Rasulullah ?”, ia bahkan tidak memperdulikan dan memperhatikan keadaannya sama sekali. Dan ketika ibunya, Ummul Khoir berusaha menyuapinya untuk makan, Abu Bakar berkata “ Demi Allah saya tidak akan makan dan minum apapun, sebelum saya melihat dan bertemu Rasulullah SAW.

Tamsil diatas dapat memberi gambaran kepada kita, betapa “sahabat” Rasulullah SAW begitu mencintai beliau, seperti mencintai diri mereka sendiri, bahkan lebih dari itu. Di dalam kata Sahabat, terdapat makna ikatan persaudaraan sejati. Persaudaraan bukanlah sesuatu yang datang kepada kita dengan sendirinya, bukan pula dipaksakan kepada kita dari luar. Persaudaraan adalah sesuatu yang harus kita lahirkan sendiri. Kita tidak akan memanen (baca:memperoleh hasil) ketulusan dari orang lain, apabila kita memelihara kemunafikan. Persaudaraan Rosulullah SAW dengan para sahabat beliau, dapat kita jadikan “uswah hasanah” untuk kita refleksikan dalam sebuah persahabatan sejati dalam sejarah kehidupan kita dengan penuh ketulusan.

Pada pertempuran Uhud, ketika sejumlah orang Islam terbunuh, seorang wanita Anshor diberitahu, bahwa ayahnya, suaminya tercinta dan anaknya tersayang serta para saudaranya gugur sebagai syahid di medan peperangan. Setelah mengucap “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun”, wanita tadi berkata, bagaimana keadaan Rosulallah SAW ? “, dia diberitahu bahwa Rosulullah SAW sehat wal afiat, tetapi dia bersikeras memaksa untuk bertemu sendiri dengan Rasulullah SAW. Pada akhirnya, setelah bertemu Rosulullah SAW, wanita tadi pun berkata “Yaa Rosulallah, segala beban dan penderitaanku serta musibah yang menimpaku terasa ringan setelah aku bertemu dan melihat engkau”.

Cerita diatas menggambarkan, betapa dalamnya ikatan persaudaraan antara Rosulullah SAW dengan para sahabatnya.  Betapa cintanya sahabat-sahabat nabi kepada junjungannya itu, sampai-sampai mereka tidak memperhatikan dan memper-dulikan lagi diri mereka sendiri.

Mungkin kita bertanya, apakah yang menyebabkan Rosulullah SAW dicintai para sahabat-sahabat beliau ?, kecintaan mereka bukan hanya karena panggilan iman saja, tetapi lebih dari itu, kecintaan mereka kepada Rasulallah SAW karena Akhlaq beliau dalam memperlakukan para sahabatnya.

 

“USWAH HASANAH” ROSULULLAH SAW

Rosulullah SAW adalah sosok insan yang ideal. Beliau adalah Amirul Mukminin seluruh penjuru alam. Beliau adalah panglima perang yang gagah berani. Kata-katanya tegas dalam mengambil keputusan, suaranya tenang, namun syarat dengan kewibawaan, maka tak heran jika pedang Da’sur yang diayunkan ke arah Rosulullah SAW jatuh seketika tatkala mendengar bibir beliau menyebut asma Allah SWT. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan, “Beliau adalah orang yang paling halus tertawa dan senyumnya”. Diantara Akhlaq Rasulullah SAW adalah sebagai berikut :

  1. Rosulullah dalam pergaulan selalu memberikan perhatian yang tulus kepada para sahabatnaya. Rosulullah SAW selalu mendahulukan orang lain dari pada diri beliau sendiri. Bila orang berbicara padanya, Rosulullah SAW mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam kitab “Min Akhlaqin Nabiyi” diceritakan tentang perhatian Rosulallah SAW kepada para sahabatnaya. Dalam sebuah pertemuan, Jabir bin Abdillah Al Bajalli tidak mendapatkan tempat duduk. Rasulullah SAW membuka gamis beliau, melipatnya dan memberikan kepada Jabir seraya berkata “Gunakanlah ini sebagai alas dudukmu”. Al bajalli mengambil gamis itu, menciumnya dengan lembut dan menangis, lantas ia berkata “Yaa Rosulallah, beginikah engkau memperlakukan dan memperhatikan para sahabatmu ?”.
  2. Dalam pergaulan Rosulullah SAW dengan para sahabatnya, beliau terbiasa memberikan penghargaan atau pujian. Rosulullah SAW tidak ragu-ragu dalam memberi penghargaan kepada mereka yang layak menerimanya. Dalam kitab hadits yang menceritakan para sahabat, kita bingung menentukan sahabat Rosulallah SAW yang mana yang paling istimewa di sisi Rasulullah ? . Siapa yang merasa lebih mendapat kehormatan dibanding Abu Bakar RA yang disebut Rosulullah sebagai “kawan terbaik” beliau, yang dipilihnya untuk menyertai beliau. Siapa lagi yang merasa terhormat dari pada Umar Bin Khottob, yang beliau sebut sebagai “manusia yang paling ditakuti setan”, sehingga bila Umar datang dari suatu arah tertentu, maka setan akan lari tunggang langgang dari segala arah. Kemudian siapa lagi yang merasa lebih terhormat dari pada Ali Bin Abi Tholib, yang menurut Rosulullah SAW, hubungan beliau dengan Ali Bin Abi Tholib diibaratkan seperti hubungan antara nabi Musa AS dan nabi Harun AS, hanya saja Ali Bin Abi Tholib bukan seorang nabi.
  3. Rosulalloh SAW terkenal karena sifatnya yang pema’af. Dalam suatu pertem-puran Dzatur Riqo’, ketika pedang lawan beliau yang hampir membunuh beliau terlepas dari tangan lawan tersebut, Rosulullah mengambil pedang itu dan membebaskan serta mema’afkan pembunuh yang gagal itu.

Ilustrasi diatas merupakan sebuah analisis prilaku Rosulullah SAW yang cukup piawai dalam bergaul dengan para sahabatnya. Maka tak heran jika para sahabat Rosulalloh SAW sangat mencintai beliau.

Ketika beliau wafat, Umar Bin Khottob tidak mau menerima dan dengan pedang ditangan, Umar berkata “Barang siapa yang berkata bahwa Rosulullah SAW telah wafat, maka pedang ini akan menebas batang lehernya”. Sementara Abu Bakar setelah mendengar kabar itu segera menuju kediaman Rosulullah SAW, dan dengan tenang membuka kain penutup jenazah Rosulullah SAW kemudian mencium dahi nabi setelah itu menutupnya kembali sambil berkata “andaikan aku boleh menangisi engkau, maka aku akan meratapi kepergianmu sepanjang hari”.Setelah itu Abu Bakar menuju Masjid dan membacakan firman Allah dalam surat Al-Imron 144 kepada para jama’ah (termasuk Umar Bin Khottob didalamnya), yaitu “Muhammad itu hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang rosulullah”. Mendengar ayat itu, Umar menangis lantas merangkul Abu Bakar seraya berkata “Seakan-akan aku belum pernah membaca ayat itu”.

 

HAKEKAT MAKNA PERSAHABATAN

Makna dari  sebuah persahabatan, hakekatnya mempunyai tiga  konsekwensi, yaitu :

  1. Lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri, karena dalam Islam kita diajari, bahwa yang nomor satu adalah Allah, kemudian nomor duanya adalah umat atau masyarakat baru yang ketiga adalah diri kita dan keluarga kita. Kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya dengan menomorsatukan Allah, kemudian umat dan masyarakat baru yang ketiga kita dan keluarga kita.
  2. Tidak ragu-ragu dalam memberikan pujian dan penghargaan kepada orang lain yang berhak menerimanya. Sebagaimana dicontohkan Rosulallah SAW ketika pulang dari sebuah peperangan. Saat itu Rosulullah SAW dijemput oleh para sahabat, dan diantaranya ada seorang sahabat yang meminta ma’af karena tak bisa mengikuti jihad menegakkan dan membela agama Allah. Tatkala bersalaman, Rosulullah mendapati tangan sahabat tersebut kasar sekali, dan Rosulullah SAW bertanya apa sebabnya. Sahabat itu mengatakan “Yaa Rosulaulah, tiap hari aku harus bekerja membelah batu untuk menghidupi keluargaku, sampai tanganku seperti ini “. Rosulullah tersenyum dan mencium tangan itu seraya berkata ”Haadzihi yaadun laa yamassuhu naarun abaadan”, inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka selamanya.
  3. Melupakan kesalahan orang lain dan mema’afkan siapa saja yang berbuat kesalahan. Rosulullah telah mencontohkan akhlaq beliau ketika Da’sur ingin membunuh beliau, dan dengan mudahnya beliau mema’afkan.

Dengan cara seperti tersebut diataslah, kita akan dapat melahirkan persauda-raan dan persahabatan yang tulus, lebih jujur dan menyenangkan. Apa yang telah dilakukan Rosulallah SAW dalam pergaulan beliau, sesungguhnya berangkat dari tiga konsekuensi diatas. Kita sebagai umatnya, sudah dan atau memang seharusnya untuk menerapkan hal yang sama dalam proses kehidupan dan pergaulan kita, yang semua tetap dalam bingkai dan konteks manusiawi, karena Rosulullah SAW sendiri manusia historis, bukan mitosis.

 

PENUTUP

Sebagai insan yang punya akal budi, sudah seharusnya kita berusaha ingin mencapai kemenangan sejarah hidup (baik dunia maupun akhirat) dengan mengi’tiba’ Rosulallah SAW. Rosulullah SAW harus dikagumi memang, dan yang lebih perlu adalah diteladani dan menjadi kiblat akhlaq kita, sehingga akhlaq yang bersifat horisontal (hablumminannas) akan dapat terwujud dalam kerangka “mahmudah”, dan menjadikan kita sebagai hamba Allah yang lulus di mata-Nya sebagai Kholifatullah.

Jadi sebenarnya semuanya tergantung kita, maukah kita bersahabat dan memperlakukan teman, rekan, dan kawan kita sebagaimana Rosulullah SAW memperlakukan para sahabatnya ?