Pengukuran (measurement/Qiyas)

Pengukuran yang diistilahkan sebagai measurement sebagaimana yang diungkapkan G. Sax dalam bukunya principles of Educational and Psyicological Measurement and evaluationMesurement: The assignment of numbers to attributes of characteristics of persons, events, or objects according to explicit formulations or rules”, dapat didefinisikan sebagai pemberian angka kepada karakter atau atribut tertentu yang dimilki seseorang, hal, atau objek lainnya berdasarkan aturan-aturan yang ada.[1]

Sebagaimana G. Sax, Mustofa R. juga memberikan definisi pengukuran yang tidak jauh berbeda dengan menyatakan:

القياس يعد قواعد استخدام الأعداد بحيث تدل على الأشياء بطريقة تشيرإلى كميات من صفة أوخاصية…

Dari pengertian tersebut, pengukuran memiliki kecenderungan melihat kuantitas tertentu dari sifat atau karakter yang akan diukur.

Denngan demikian, pengukuran/measurement/qiyas pada prospeknya adalah mengambil keputusan dengan ukuran-ukuran kualitatif tertentu yang mengantarkan pada penilaian baik-buruk, positif-negatif, dan sebagainya. Ukuran-ukuran yang dimaksud bisa bersifat acuan ataupun norma jika menggunakan alat ukur tes, yang dalam bahasa linguic test diistilahkan penilaian acuan patokan dan penilaian acuan norma.

Tes

Sebagaiamana pengukuran, tes juga menempati pengaruh signifikan dalam dunia evaluasi. Sebab, tujuan inti dan primordial diadakannya evaluasi pembelajaran di suatu lembaga atau sekolah adalah mendapatkan informasi kualifikasi peserta didik. Bagaimana dan sejauh mana perkembangan siswa yang telah melakukan proses belajar. Apakah mereka (dari aspek keilmuan) sudah dapat menyerap berbagai fan ilmu yang diproyeksikan oleh sekolah?, sampai dimana pemahaman mereka terhadap materi pelajaran yang dipelajari?. Tentunya, untuk melihat itu semua adalah menggunakan cara atau alat yang disebut tes. Dengan tes, kemajuan dan perubahan pada diri siswa yang telah mengikuti sekian proses belajar dapat diketahui secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan ().

Dengan demikian, tes adalah salah satu intrumen, alat ukur atau prosedur pengukuran yang digunakan dalam kegiatan evaluasi untuk menilai peserta didik dengan tingkat kompetensinya masing-masing.

 

Penilaian

Unsur penting lain yang terlibat dalam evaluasi setelah peran tes di atas adalah penilaian. Suatu proses pengambilan keputusan hasil dari evaluasi yang sifatnya kualitatif atau merujuk pada tingkatan baik-buruk, layak-tidak layak, relevan-tidak relefan dan sebagainya. Evaluasi yang berujung pada  kualitas tertentu berarti telah terjadi penilaian, sebaliknya jika menggambarkan tingkan kuantitas tertentu berarti terjadi proses pengukuran (measurement/qiyas) sebagaimana dimaksudkan di atas.

 

Asesmen (assessment)

Disamping peran pengukuran, tes dan penilain yang saling bekerja sama dalam menuntaskan misi evaluasi, tidak kalah penting adalah asesmen. Yaitu kumpulan data-data secara komprehensif tentang program lembaga atau sekolah yang dilaksanakan. Baik dari segi masukan, proses, produk dan dampak.

Selanjutnya, dari kumpulan data tersebut sekolah atau lembaga dapat menyandarkan diri berdasarkan informasi data tersebut untuk menyusun sebuah program.[2] Program yang dimaksud bisa berupa kegiata evaluasi yang terkait dengan pengukuran, sebab pengukuran (measurement) secara sistematis memerlukan data atau informasi yang diperoleh dari proses asesmen. Sebagaimana dinyatakan oleh Thomas A. Angelo K. Patricia Cross:

 

Assessment, a term applied to a wide range of approaches used to measure educational effectiveness, soon became a cornerstone of the reform movement.[3]

            Karenanya, dengan melibatkan asessmen ini, evaluasi secara umum dan sistemik mencakup tiga hal, yaitu evaluasi (judgment), asessment (data Interpretation) dan measurement (data collection).


[1] Hisyam Zaini, dkk. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD, 2002), Hlm. 157.

[2] Muchlas Samani, dkk.. Panduan Manajemen Sekolah

[3] Thomas A. Angelo K. Patricia Cross, Classroom Assessment Techniques: A handbook for College Teachers, San Francisco: Jossey-Bass, 1993, hlm. 337